Sabtu, 08 Maret 2014

Efektifitas Komunikasi Bisnis


Efektivitas komunikasi bisnis, seperti halnya jenis komunikasi lainnya ditentukan beberapa hal :

1. Persepsi. Komunikator harus dapat memprediksi apakah message yang disampaikan dapat diterima komunikan.
2. Ketepatan. Komunikan atau audience memiliki kerangka piker. Agar komunikadi yang dilakukan tepat sasaran, komunikator perlu mengeksperikan hal yang ingin disampaikan sesuai dengan kerangka piker komunikan.
3. Kredibilitas. Dalam berkomunikadi komunikator perlu memiliki suatu keyakinan bawah komunikan dapat dipercaya. Sebaliknya dia juga harus bisa mendapatkan kepercayaan dari komunikan.
4. Pengendalian. Dalam komunikasi, komunikan memberika reaksa/umpan balik/feedback terhadap pesan yang disampaikan. Reaksi ini harus bisa diantisipasi sekaligus dikendalikan oleh komunikator sehingga tidak melenceng dari target komunikasi yang diharapkan.
5. Kecocokan. Komunikator yang baik selalu dapat menjaga hubungan persahabatan yang menyenangkan dengan komunikan.

Sementara Ketrampilan meningkatkan efektivitas komunikasi bisa dilakukan dengan berbagai cara menyangkut komunikasi verbal non verbal, lisan maupun tulisan.

1. Reading
2. Listening
3. Speaking dengan membuat dan atau melakukan percakapan menarik.
4. Melakukan wawancara
5. Kontak dengan kelompok-kelompok lain
6. Membiasakan diri berpidato dan atau melakukan presentasi
7. Writing dengan menulis surat, memo dan laporan.

sumber:http://komunikasi-pembangunan.blogspot.com/

ARTIKEL: Promosi dan Iklan bagian dari Proses Komunikasi bisnis (?)


Posted by:  yanuar_firmansyah at yahoo.co.id ,Oct 10, 2010 — Semua promosi, termasuk periklanan, diterima oleh konsumen sebagai informasi yang ada di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, model pemrosesan kognitif dalam pengambilan keputusan relevan digunakan untuk memahami dampak dari jenis promosi yang digunakan terhadap konsumen.
Pertama konsumen harus diekspose pada sebuah informasi promosi. Kemudian mereka harus masuk ke dalam komunikasi promosi dan memahami maknanya. Akhirnya, pengetahuan, makna dan kepercayaan yang didapat tentang bentuk promosi yang ditrerimanya akan diintegrasikan dengan pengetahuan lainya untuk menciptakan sikap merek dan membuat keinginan untuk membeli (Peter & Olson, 2000:188)
Iklan sendiri merupakan suatu perilaku konsumen dalam melakukan pemrosesan informasi. Informasi merupakan isi dari apa yang dipertukarkan dengan dunia luar sebagaimana kita menyesuaikannya dan membuat penyesuaian dengan yang kita rasakan (Mowen & Minor, 2002:80)
Mowen & Minor (2002:82-83) mengemukakan terdapat tiga faktor penting yang akan mempengaruhi pemrosesan informasi, yaitu: persepsi, tingkat keterlibatan konsumen, dan memori :
·         Faktor pertama (persepsi) merupakan tahap dimana individu diekspos untuk menerima informasi melalui panca inderanya (exposure stage), memperhatikan informasi tersebut dan mengalokasikan kapasitas pemrosesan menjadi rangsangan (attention stage), dan terakhir mereka menyusun dan menginterpretasikan informasi untuk mendapatkan arti tentang informasi tersebut (comprehension stage).
·         Faktor kedua yang mempengaruhi pemrosesan informasi adalah tingkat keterlibatan konsumen dalam proses yang akan menggeser konsumen dari tingkat penerimaan ke tingkat perhatian, yang pada akhirnya sampai pada tahap pemahaman persepsi.
·         Faktor ketiga, memori, memegang peranan penting pada setiap tahap persepsi, dimana akan memandu proses exposure dan perhatian dengan membiarkan konsumen mengantisipasi rangsangan yang mereka hadapi. Memori juga membantu proses pemahaman tentang suatu pengetahuan dengan menyimpan pengetahuan tersebut dan membukanya kembali dalam suatu bentuk rangsangan.
Perspektif pemrosesan kognitif menyatakan bahwa mengembangkan strategi pemasaran yang berhasil intinya adalah permasalahan komunikasi. Model sederhana yang memperlihatkan faktor-faktor kunci dalam proses komunikasi dimulai ketika sumber komunikasi menentukan informasi apa yang harus dikomunikasikan dan meng-enkoding pesan tersebut dalam bentuk simbol-simbol yang paling tepat (kata, gambar, tindakan).
Pesan tersebut kemudian ditransmisikan ke sebuah penerima melalui berbagai media. Penerima atau konsumen, jika diekspos ke dalam suatu promosi, harus men-dekoding atau menterjemahkan maknanya. Kemudian konsumen tersebut dapat mengambil tindakan, yang dapat berupa pergi ke toko atau melakukan pembelian (Peter & Olson, 2000:188). Dua tahapan model komunikasi yang dibutuhkan demi keberhasilan penerapan strategi promosi:
·         Yang pertama terjadi ketika pemasar menciptakan komunikasi promosi untuk mengkoding suatu makna tertentu.

·         Yang kedua adalah pen-dekodingan, yaitu ketika konsumen masuk dan memahami informasi dalam komunikasi promosi dan mengembangkan interpretasi pribadi mereka terhadap makna yang ditangkap (Peter & Olson, 2000:188).
Dari paparan diatas, dapat diambil simpulan bahwa iklan yang terutama ditujukan untuk memperkuat kesadaran konsumen terhadap suatu merek, pengingatan dianggap cukup untuk mengukur efektivitas iklan yang dinyatakan dengan advertising awareness.
Sedangkan persuasi berkaitan dengan dampak pemahaman konsumen terhadap suatu iklan, terhadap kepercayaan konsumen pada ciri atau konsukuensi produk, sikap terhadap merek, merek terhadap keinginan atau pembelian merek. Suatu iklan diharapkan dapat menciptakan rantai akhir suatu pengetahuan produk sebagaimana yang diinginkan yaitu menemukan apakah konsumen mampu membentuk pengasosiasian yang tepat antara merek dengan pribadi dari konsumen.
Penelitian aplikatif yang dapat digunakan untuk mengukur efektifitas sebuah periklanan dapat dilakukan dengan metode CRI (Customer Response Index). Customer Respon Index (CRI) yaitu Alat analisis ini digunakan untuk mengetahui respon konsumen pada suatu periode waktu tertentu kampanye iklan suatu merek, dalam bentuk prosentase respon konsumen dalam kuesioner, sehingga diperlukan pengukuran kembali pada waktu mendatang.
Kelebihannya adalah cukup mudah menggunakan karena cukup memprosentasekan respon konsumen dari kuesioner yang didapat, kekurangannya adalah karena dalam bentuk prosentase hasil akhirnya, tidak adanya kategori efektifitas iklan yang baku dari referensi yang ada. Dengan menghubungkan antara respon seorang konsumen terhadap iklan dimulai dari :
tahu merek (brand awareness) -> tertarik merek (Brand Atttraction ) -> tertarik membeli (Brand Interest) -> berniat membeli (Brand Intentions) -> melakukan pembelian secara nyata (Brand Action).

Sebenarnya dapat dikatakan adalah sebuah proses keputusan pembelian oleh konsumen dengan stimulus dari lingkungan luar adalah iklan dan aktifitas promosi. Ini terlepas dari stilumulus luar seperti harga, distribusi, pengaruh lingkungan sekitar, dsb. Sebenarnya 3 P (Product, Place, Price) lainnya juga mempengaruhi tetapi hal ini bergantung kepada materi dari iklan dan aktifitas kampanye promosi yang digalakkan dari produsen apabila menggunakan grafik ini.


Sumber: http://qnoyzone.blogdetik.com/

SURAT LAMARAN KERJA


Bekasi, 08 Maret 2014

HAL: Lamaran Kerja                                                                                      
Kepada yth,
Bapak/Ibu Personalia
         
Di
Tempat

Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
                Nama                                    : Nina Agustyaningtyas
                Tempat/tgl Lahir                    : Bekasi, 10 Agustus 1994
                Alamat                                  : Jl Elang 1 blok E no 35 perum Pondok Timur Indah                                                                I Bekasi Timur
                Telepon                                 : 081295252415

Dengan ini saya bermaksud mengajukan surat permohonan kerja untuk dapat diterima sabagai karyawan pada perusahaan yang bapak/ibu pimpin. Adapun sebagai bahan pertimbangan saya lampirkan syarat-syarat sebagai berikut :
1.                  Daftar Riwayat Hidup
2.                  Fotocopy KTP
3.                  Fotocopy Ijasah sarjana D3 yang telah dilegalisir
4.                  Fotocopy transkrip nilai sarjana D3 yang telah dilegalisir
5.                  Fotocopy kartu tanda pencari kerja
6.                  Surat keterangan kesehatan dari Dokter
7.                  Surat keterangan catatan kepolisian
8.                  2 lembar pas photo 3x4

Demikian surat permohonan ini saya sampaikan, besar harapan saya untuk dapat diterima pada perusahaan yang bapak/ibu pimpin. Segala perhatian saya mengucapkan terimakasih.


                                                                                                                    Hormat Saya,



                                                                                                Nina Agustyaningtyas

Minggu, 17 November 2013

Artikel

MEITY AMELIA :  Pengusaha Sukses Berawal dari Hobi

Berawal dari hobi, Meity Amelia sukses sebagai pengusaha bakery dan cake. Meity Amelia lahir di kota kecil di Gorontalo, 50 tahun lalu. Waktu itu daerahnya sepi dan tidak banyak orang yang menjual makanan. Setiap sore, Sang Mama selalu membut kue-kue untuk kedua anaknya. Awalnya ia hanya bisa melihat dan membantu mengambilkan alat atau bahannya saja. Tapi lama-kelamaan, ia ikut mengaduk adonan, mencetak dan membakar atau menggorengnya. Ia sudah bisa membuat puding dan roti goreng sendiri sejak masuk sekolah dasar (SD).
Karena seringnya membantu, sejak masuk sekolah dasar (SD), ia sudah bisa membuat puding dan roti goreng sendiri. “Rasanya puas bisa membuat roti goreng sendiri dan dinikmati sendiri,” jelas Meity. Jadi ketika teman-teman sebayanya senang bermain-main di luar rumah, ia berada di dapur membantu mamanya memasak atau membuat kue sendiri.
Selain belajar membuat aneka cake dan masakan, ia juga sudah diajari bisnis oleh orang tuanya. Ketika menginjak kelas 3 SD, ia sudah berani menjual permen dari gula merah di sekolahnya. Karena rasanya enak dan murah, dagangannya selalu habis dibeli teman-temannya. ”Permen gula merah saya buat sendiri, jadi keuntungannya jadi lebih besar,” jelas ibu 6 anak ini.
Proses belajar yang panjang, serta pengalaman yang banyak membuat kue dan cake, ternyata sangat berguna ketika ia menjalankan bisnis cake di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa motto kami adalah kualitas di atas kuantitas Untuk itu ia benar-benar memperhatikan kualitas bahan, penampilan, dan rasa.




JURNAL
I. Pendahuluan
Saat ini, untuk menjadi seorang wirausahawan tidaklah sulit. Banyak hal yang dapat kita kembangkan untuk menjadi suatu peluang usaha. Seperti halnya yang dilakukan oleh Ibu Meity Amelia yang menjadikan hobinya sebagai jembatan untuk membuka suatu usaha yang kini menjadikannya seorang pengusaha yang sukses.
Ibu meaty Amelia lahir di kota kecil Gorontalo 50 tahun lalu. Waktu itu didaerahnya masih sepi dan tidak banyak yang menjual makanan. Sewaktu kecil ia selalu membantu sang mama yang sering membuatkan kue untuk anak-anaknya. Diawali dengan mengambilkan bahan dan alat sampai akhirnya ia ikut serta dalam proses pembuatan kue.
II. Isi materi
Keahlian membuat cake makin bertambah ketika ia menginjak sekolah menengah pertama (SMP). Ia suka membeli majalah atau buku tentang resep dan masakan. Tidak hanya dibaca saja, tetapi ia juga senang mempraktikannya di rumah. Hasilnya, ia sering sekali menghadiahi teman-teman atau ponakan dengan tart. 
Proses belajar yang panjang, serta pengalaman yang banyak membuat kue dan cake, ternyata sangat berguna ketika ia menjalankan bisnis cake di Jakarta. Tahun 1993, ia membuka Grandville Island, Bakery dan Cake Shop di komplek pertokoan Greenville, Jakarta Barat. Waktu itu modalnya hanya 1 mikser kecil, 1 oven biasa, 1 meja dan 1 lemari pendingin. Perlahan tapi pasti, ia mulai mendapatkan pelanggan. ”Motto kami adalah kualitas di atas kuantitas,” jelasnya. Untuk itu ia benar-benar memperhatikan kualitas bahan, penampilan, dan rasa.





Kelebihan dari cake atau kue buatannya adalah ia selalu memperhatian detail dan membuatnya lebih artistis Selain kue kering, ia juga menerima pesanan aneka tart untuk segala keperluan, aneka snack, dan roti. Lebih dari 60 jenis cake yang ia produksi.

cookies mix


Karena makin lama pesanan makin banyak, ia mengambil karyawan untuk membantunya. Sekarang ini ia dibantu 13 karyawan. ”Tapi kalau mendekati Lebaran, Natal atau hari raya lainnya, saya bisa dibantu 30 karyawan,” jelas Ibu Meity yang sampai sekarang masih rajin ikut kursus membuat cake dan kue. Baginya, belajar merupakan keharusan jika ingin produknya terus didatangi pelanggan. Selain kue kering, ia juga menerima pesanan aneka tart untuk segala keperluan, aneka snack, dan roti. Lebih dari 60 jenis cake yang ia produksi antara lain: blackforest, tiramisu, havana cake, sultana butter, caramel nut, cruncy drop’s dan masih banyak lagi. 

III. Kesimpulan
Hobi merupakan salah satu sumber kreatifitas seseorang untuk menyalurkan bakatnya dan menjadikannya sebagai peluang usaha yang bisa sangat menjanjikan seperti halnya yang dilakukan oleh Ibu Meity Amelia yang kini telah menjadi seorang pengusaha bakery dan cake yang sukses. Ia pun kini menjadi Bendahara Asosiasi Bakery Indonesia. Ibu Meity menjelaskan bahwa “ada beberapa tips untuk mereka yang ingin memulai usaha makanan. Pertama, kerjakan dengan kesungguhan hati dan ikhlas. Jangan pernah menggerutu dengan apa yang ia kerjakan. Kedua, jangan malas belajar entah dengan mengikuti kursus atau membaca buku. Ketiga, terus jaga kualitas dan selalu buat inovasi baru”.